Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Hasnan Singodimayan: Dari Budayawan, Sastrawan Hingga ke Takwil Al-Qur’an

Betrand Russel, Politik, dan Tatanan yang Diimajinasikannya

Modern methods of production have given us the possibility of case and security for all; we have chosen, instead, to have overwork for some and starvation for the others. Hitherto we have continued to be as energetic as we were before there were machines; in this we have been foolish, but there is no reason to go on being foolish forever

(Betrand Russel (1935) dalam In Praise of Idleness and Other Essays)

Barat mempunyai sejarah kelam pada abad pertengahan, di mana terjadi apa yang disebut sebagai “the dark ages”, suatu abad dengan dominasi gereja yang begitu luar biasa, yang kemudian terjadi juga berbagai kemelut yang ditandai oleh berbagai gejolak sosial. Akan tetapi, masalah-masalah tersebut dapat memberikan suatu kemantapan, keberanian, dan dasar keyakinan untuk melakukan perubahan, sehingga muncul renaissance (pencerahan), yang salah satu semangat utamanya adalah individualisme.

Paragraf di atas menjadi pembuka dalam risalah Political Ideals (1917) yang sudah diterjemahkan menjadi Cita-cita Politik (1976) yang ditulis oleh Betrand Russel, seorang filsuf dan matematikawan terkemuka yang dikenal luas dalam jagat pemikiran. Russel juga dikenal sebagai seorang pemikir yang aktif dalam mengkampanyekan perdamaian. Russel sendiri tumbuh pada masa yang penuh dengan kengerian, salah satunya yaitu masa Perang Dunia I.

Akan tetapi, sebagaimana dominasi gereja yang dapat menumbuhkan keberanian dan keyakinan baru untuk melakukan perubahan. Russel pun menyatakan bahwa masa-masa yang penuh dengan kekerasaan yang telah dilalui (perang), tentu dapat lebih menyadarkan dan memantapkan kita dibanding sebelumnya, bahwa kejahatan memang sungguh-sungguh kejahatan, dan karena itu kita dituntut untuk bergerak dan mengupayakan dunia yang lebih baik dan kehidupan yang lebih damai. Kita harus belajar dari apa-apa yang menyebabkan destruksi di masa lalu, saat terjadi usaha penghancuran antar manusia yang satu terhadap yang lain.

Baca Juga:  Hasnan Singodimayan: Dari Budayawan, Sastrawan Hingga ke Takwil Al-Qur’an

Dalam pemahaman Russel, segala kekacauan yang terjadi, termasuk perang, karena berangkat dari suatu cita-cita politik yang salah, dan sebab itu hanya dapat diselamatkan dengan cita-cita yang berbeda dari sumber-sumber yang selalu membawa kesengsaraan, kejatahatan dan atau keganasan. Singkat kata, kita dapat belajar dari masa lalu mengenai hal-hal yang mendasari mengapa terjadi serangkaian kekacauan, terutama cita-cita politik yang melatar belakanginya, sehingga kita dapat menyusun suatu cita-cita politik yang berbeda sebagai upaya membangun dunia yang lebih baik dan damai, berkeadilan serta anti teradap segala bentuk dominasi dan eksploitasi. Dari sinilah pentingnya untuk memperbincangkan pemikiran Russel mengenai apa yang disebut sebagai political ideals (cita-cita politik yang ideal).

Memaknai Individualisme: Landasan dari Sebuah Cita-cita Politik yang ideal

Bagi Russel, political ideals (cita-cita politik yang ideal) harus didasarkan pada kehidupan individu. Sasaran-sasaran politik haruslah membuat kehidupan individu lebih baik. Sebab itu, yang menjadi masalah dalam politik adalah menyeleraskan hubungan manusia-manusia dalam cara sedemikian, sehingga masing-masing sebanyak mungkin memperoleh kebaikan di dalam eksistensinya.

Dengan demikian, pemikiran yang mendasarkan bahwa kehidupan individu sebagai sasaran politik, bukanlah suatu hal yang mengarahkan pada egoistis, melainkan penghormatan atas hak-hak individu dan jaminan bahwa tiap-tiap individu berhak memperoleh kebaikan. Dengan kalimat lain, yang dimaksud pendasaran Individu sebagai cita-cita politik dalam pengertian Russel, justru tidak menghendaki adanya sikap dominasi dari individu yang satu terhadap individu yang lain, melainkan terjadi keselarasan antar tiap-tiap individu, dan tiap-tiap individu mempunyai motivasi dan berupaya sebaik mungkin untuk mewujudkan kemasalahatan hidup bersama.

Tafsiran saya atas pemikiran Russel mengenai kehidupan individu yang harus menjadi lebih baik sebagai sasaran politik ini, sejalan juga dengan bagaimana Russel menjelaskan mengenai dua macam “benda” dan dorongan yang bersangkutan yang terdapat dalam tiap-tiap individu. Pada dasarnya, dalam kehidupan manusia terdapat dua unsur utama yang dapat kita bedakan, yaitu materil dan spiritual. Dan sehubungan dengan dua jenis unsur atau “benda” tersebut, Russel pun mengemukakan ada dua jenis dorongan dalam diri manusia yang berkenaan untuk menghadapi dua jenis unsur “benda” tadi, yaitu dorongan posesif dan ada juga dorongan kreatif atau konstruktif.

Baca Juga:  Tentang Makar Allah

Adapun yang disebut sebagai dorongan posesif, yaitu suatu hal yang mengarah untuk memperoleh atau mempertahankan benda-benda pribadi yang tidak dapat dibagikan pada orang lain, dorongan posesif ini semacam hasrat untuk “memiliki”; sementara yang disebut sebagai dorongan konstruktif atau kreatif, yaitu dorongan yang mengarah pada pembawaan atau penyediaan kepada dunia, suatu hal yang menunjukkan kreasi atau membangun (menemukan) untuk kepentingan umum atau kemasalahatan bersama.

Dua unsur (benda) dalam kehidupan manusia tadi dan dua jenis dorongan dalam diri manusia untuk menghadapi dua jenis unsur itu, tentu akan berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi maupun politik. Maka nampak jelas bagaimana Russel membangun argumentasinya dengan mendasarkan pada analisis psikologi sosial. Menurut Russel sendiri, kehidupan terbaik yaitu saat dorongan-dorongan kreatif memainkan peran lebih banyak dalam diri manusia dibandingkan dorongan posesif.

Dalam pemahaman Russel, kekacauan dan kerusakan yang terjadi, termasuk perang ataupun kekerasaan, karena yang mendominasi dalam diri manusia adalah dorongan posesif, sehingga yang dikejarnya adalah hal-hal yang dapat menguntungkannya secara pribadi, baik dalam bentuk kekayaan, dominasi atas manusia lain, dan lain-lainnya.

Bagi Russel, dalam suatu political ideals, yang dibutuhkan adalah individu-individu yang mempunyai dorongan kreatif atau konstruktif yang kuat. Dan hal itu dibutuhkan untuk tatanan kehidupan yang lebih baik dan dunia yang lebih damai. Russel pun menulis “apa yang kita inginkan untuk masing-masing individu, yaitu dorongan kreatif yang kuat, reference (menghormati yang lain), dan memelihara dorongan kreatif yang fundamental dalam diri kita”.

Dan untuk membentuk individu yang mempunyai dorongan kreatif-konstruktif yang kuat tersebut, diperlukan peran dari lembaga-lembaga politik, sosial maupun pendidikan. Terlebih lagi, dorongan-dorongan dalam diri manusia merupakan suatu hal yang dapat berkembang, sebagaian oleh sifat bawaannya, sebagian oleh kesempatan dan lingkungan, khotbah-khotbah dan lainnya. Dengan demikian, lembaga-lembaga tersebut harus mampu mengembangkan dorongan kreatif-konstruktif dalam tiap individu dan sebisa mungkin mengikis dorongan posesif tersebut.

Baca Juga:  Memahami Tajalli dan Penyucian Jiwa Melalui Puisi Rumi

Dalam konteks kehidupan hari ini, termasuk di Indonesia, saya rasa yang menjadi salah satu tantangan terbesar dalam kepolitikan, termasuk untuk mengukuhkan dorongan kreatif-konstruktif, yaitu tatanan kapitalisme. Tatanan kapitalisme yang mengandaikan kompetisi dapat menghanyutkan orang ke dalam pengejaran material dan dapat menyuburkan ketidakadilan serta dominasi dari individu satu terhadap yang lain. Russel pun amat krititis terhadap kapitalisme, yang menurutnya, bahkan dapat menyebabkan orang yang semula mengarah kepada dorongan kreatif-konstruktif berbalik diracuni kompetisi dan kemudian yang mendominasi adalah dorongan posesif.

Previous Article

Masihkah Surga, Tanpa Musik?

Next Article

Ibn Khaldūn dan Tasawuf: Antara Apresiasi Asketik dan Kritik Sosial-Politik

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *