ARTIKEL

Kesombongan Hanya Melahirkan Kebodohan: “Raksasa” Trump dan Netanyahu vs “Liliput” Iran

Penulis

Haidar Bagir
Maret 10, 2026
4 menit membaca

Donald Trump dan Netanyahu memiliki tabiat buruk yang sering menjadi sumber kesalahan besar. Itulah kecongkakan. Mereka merasa berada di pihak yang tak terkalahkan. Amerika Serikat adalah negara adikuasa terkuat di dunia, dengan anggaran militer yang melampaui negara mana pun. Israel, di sisi lain, kerap disebut sebagai negara dengan kekuatan militer paling tangguh di Timur Tengah. Dengan teknologi mutakhir, intelijen canggih, dan dukungan penuh dari Washington, mereka merasa bisa berbuat apa saja, secara semau-maunya.

Namun sejarah berulang kali memperlihatkan bahwa kesombongan sering kali melahirkan kebodohan. Karena terlalu yakin pada diri sendiri, orang menjadi lengah. Ia berhenti belajar tentang lawannya. Ia menganggap musuhnya tidak ada apa-apanya di hadapan kedigdayaannya. Di sinilah kesalahan perhitungan terhadap Iran terjadi.

Saya tak bilang bahwa Iran akan menang. Bahkan, saya yakin akan ada korban besar di pihak Iran yang diserang secara keroyokan ini. Tapi, pada saat yang sama, Iran bukan hanya negara yang berkembang pesat dalam teknologi persenjataan—dari rudal balistik hingga sistem pertahanan udara. Kekuatan Iran yang paling mendasar justru terletak pada sesuatu yang jauh lebih sulit dihancurkan: teologi perlawanan.

Dalam kultur politik-religius Iran pasca-revolusi, menyerah bukanlah default mereka. Jihad, yang bersifat eskatologis, mereka pahami sebagai ruh semua perlawanan melawan penindasan. Inspirasi terbesarnya tentu saja adalah syahadah Imam Husayn di Karbala—peristiwa yang dalam kesadaran Syiah bukan sekadar tragedi sejarah, melainkan paradigma abadi tentang keberanian melawan kezaliman, meskipun dengan bayangan  kekalahan secara militer.

Di dalam paradigma teologis ini, kematian tidak selalu dipandang sebagai akhir. Bagi mereka, mati sebagai syahid justru lebih sering menjadi dambaan. Syuhada tidak dianggap habis dan hilang dari dunia. Mereka dipercaya tetap hidup dalam makna yang lebih tinggi—hidup sebagai inspirasi moral bagi generasi berikutnya.

Tradisi Syiah bahkan memiliki konsep yang sangat unik tentang kehadiran melalui ketaktertampakan. Imam Mahdi, menurut keyakinan mereka, berada dalam keadaan gaib. Ia tidak terlihat, tetapi diyakini tetap hidup dan tetap hadir dalam sejarah, bahkan sebagai perpanjangan tangan kehendak Ilahi. Seperti dikemukakan oleh Connie Chen, gagasan ini membentuk semacam teologi ketaktertampakan. Di dalamnya, ketidaktampakan atau ketidakberadaan justru memelihara kehadiran.

Dalam kerangka seperti ini, kematian seorang pemimpin tidak selalu berarti berakhirnya pengaruhnya. Kadang justru sebaliknya. Seorang syahid dapat menjadi lebih “hidup” setelah wafat daripada ketika masih bernapas. Karena itu, membunuh seorang tokoh seperti Ayatullah Ali Khamenei justru berpotensi menjadi kesalahan strategis terbesar. Alih-alih mematahkan perlawanan, kematiannya hampir pasti akan mengubahnya menjadi simbol spiritual yang jauh lebih kuat daripada dirinya sebagai pemimpin politik yang hidup. Kesombongan sering membuat kekuatan militer gagal memahami dimensi psikologis dan teologis dari lawannya seperti ini.

Kecongkakan Trump dan Netanyahu membuat keduanya tak sedia mempelajari dengan sungguh-sungguh karakter masyarakat Iran yang dimusuhinya. Mereka melihat Iran hanya sebagai perwujudan ideologi primitif Abad Pertengahan di masa modern—yang “kebetulan lumayan” maju dalam hal industri persenjataan. Sayangnya, tak masuk dalam radar mereka—lagi-lagi akibat kecongkakan—bahwa memori religius yang sangat kuat ini, telah melahirkan tradisi martir yang  membentuk identitas kolektifnya selama berabad-abad.

Jika seorang pemimpin seperti Khamenei dibunuh, reaksi pertama kemungkinan bukanlah ketakutan, melainkan kemarahan kolektif. Kemarahan yang dapat mengkristal menjadi solidaritas nasional. Dalam situasi seperti itu, bahkan kelompok-kelompok yang selama ini menentang Republik Islam Iran, akan berada dalam posisi yang sangat sulit. Mereka sudah cukup kikuk melihat negeri mereka sendiri diserang—rumah-rumah warga, sekolah, dan rumah sakit dibom. Tetapi lebih lebih kikuk lagi ketika mereka harus berada di barisan yang sama dengan pihak yang menyerang tanah air mereka sendiri.

Tanpa serangan militer pun, oposisi terhadap Republik Islam sebenarnya tidaklah sebesar yang sering dibayangkan—dan ini juga salah satu kesalahan besar Trump dan Netanyahu. Dalam situasi perang seperti ini, ruang bagi oposisi itu justru semakin menyempit. Nasionalisme dan solidaritas sosial biasanya menguat justru ketika negara berada di bawah ancaman eksternal.

Kesombongan membuat seseorang berhenti berpikir jernih. Ia menutup mata terhadap kompleksitas realitas. Ia meremehkan kekuatan lawannya. Ia mengira bahwa teknologi dan kekuatan militer saja cukup untuk memenangkan pertempuran. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa kekuatan spiritual dan semangat perlawanan sering kali jauh lebih tahan lama daripada keunggulan senjata.

Kesombongan memang kerap tampak sebagai tanda kekuatan. Tetapi dalam banyak kasus, ia tidak lain hanyalah sisi lain dari kebodohan. Apalagi, siapa  manusia yang lebih congkak ketimbang Trump dan Netanyahu?

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Penulis belum menambahkan bio / deskripsi profil pada pengaturan akunnya.

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan