Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  KALAU PUN TUHAN BELUM BISA DIBUKTIKAN SEBAGAI PASTI ADA, SETIDAKNYA KITA TAK BISA MENGATAKAN BAHWA DIA PASTI TIDAK ADA

Whirling Dervishes: Dari Rindu Jadi Obat

Kata Jokpin—panggilan akrab Joko Pinurbo—dalam puisinya, rindu ternyata bukan tentang jarak, tapi karena ia telah menetap di hati. Sejauh apapun jaraknya, jika ia tidak ada di hati rindu hanya omon-omon gombal belaka. Sebutlah seorang yang sering mengikuti majelis shalawat, alih-alih karena kerinduanya dengan baginda Rasul, terkadang alasan mengikuti majelis shalawat karena tubuh dan pikiran ingin menikmati musik saja upaya melepaskan penat. Mengikuti majelis shalawat karena sedang banyak pikiran dan banyak masalah kehidupan, apakah ini yang disebut kerinduan? Pertanyaan ini baik direnungkan kembali, jangan-jangan bukan rindu Nabi Muhammad SAW, tapi hanya ingin menikmati musiknya. Agar tidak terkesan ingin menghibur diri atau menikmati musik sebagai hiburan, makanya datang ke majelis shalawat agar terkesan baik dan Islami.

Lalu siapa dan bagaimana perindu itu? Dalam majelis shalawat tidak sedikit kita lihat tarian yang berputar, sering disebut dengan tari sufi. Di Timur Tengah tarian ini memiliki banyak sebutan mulai dari whirling dance, whirling dervishes, dan sufi dance. Sejarah munculnya tarian ini salah satunya karena sebuah kerinduan seorang murid kepada gurunya. Nama murid itu adalah Jalaluddin Rumi, yang terkenal dengan sebutan pendeknya sebagai Rumi. Rumi berasal dari keluarga terpandang yang nasab dari Ibunya sampai pada khalifah Ali bin Abi Thalib, sedangkan ayahnya sampai pada Abu Bakar.

Karena kepandaian, kecakapan, dan sebagai pengajar, Rumi dipanggil dan diberi gelar Mawlana—tuan kami. Kecakapan ilmunya dipengaruhi oleh pendidikan dari ayah dan gurunya. Sang guru bernama Syamsuddin At-Tabriz yang terkenal dengan Syam Tabrizi. Dalam sejarah ceritanya ia adalah sosok misterius yang mendatangi Rumi. Rumi sangat taat dan cinta kepada Syam Tabrizi, layaknya seorang murid kepada gurunya. Hubungan dengan gurunya inilah yang kemudian memunculkan whirling dervishes–sufi atau darwis yang berputar.

Baca Juga:  KALAU PUN TUHAN BELUM BISA DIBUKTIKAN SEBAGAI PASTI ADA, SETIDAKNYA KITA TAK BISA MENGATAKAN BAHWA DIA PASTI TIDAK ADA

Suatu hari karena alasan yang misterius, Syam Tabrizi pergi meninggalkan Rumi. Ada yang menyatakan kepergian Syam Tabrizi karena murid-murid yang Rumi ajar sebelumnya tidak suka dengan Syam Tabrizi. Alasan kedua adanya fitnah karena Syam Tabrizi seorang yang kritis dengan kondisi politik-keagamaan masa itu. Dalam upaya mencari gurunya, Rumi tak kunjung juga menemukan hingga tersulut rindunya. Hingga kemudian dalam perjalanannya di sebuah pasar ia mendengar tabuhan dan gemerincing pandai besi, kemudia ia menari berputar-putar.

Ada versi lain mengatakan bahwa munculnya tarian berputar saat Rumi selesai berkhalawat dengan Syam Tabrizi selama empat bulan. Karena kerinduannya dengan sang guru, Rumi kemudian megadakan majelis sama’—zikir dan shalawat dengan iringan musik beserta tarian. Majelis sama’  yang Rumi adakan berkembang menjadi tarekat Maulawiyah.

Versi pertama Rumi melakukan whirling dervishes adalah karena besar kerinduannya kepada sang guru. Sedangkan versi kedua adalah karena perjalanan spiritualnya setelah berkhalwat bersama sang guru. Versi kedua menunjukan kerinduan dalam tarian adalah kerinduan dengan sang pencipta. Karena Rumi sudah mulai melakukan tarian melalui majelis sama’ ketika gurunya masih ada.

Tarian berputar ini bukan tanpa makna. Ada sebuah novel karya Ibn Tufail yang berjudul Hayy Bin Yaqdzan yang mengisahkan seorang yang hidup diasuh oleh seekor rusa. Karena tidak ada pembelajaran tentang agama dan sang pencipta, anak itu melakukan pencarian. Hingga suatu hari ia menemukan salah satu cara menemukan sang penciptanya adalah dengan melakukan penyerupaan. Salah satu bentuk penyerupaan yang ia lakukan adalah penyerupaan dengan alam semesta. Ia berputar mengelilingi pulau seperti alam semesta yang ia lihat setiap malam. Sampai-sampai ia berputar-putar di satu poros kakinya sendiri.

Baca Juga:  Tasawuf dan Proyek Transformasi Sosial ala Kuntowijoyo

Dari Rumi dan cerita Hayy, tarian dapat menjadi sarana pertemuan untuk mengobati sebuah kerinduan. Jika kerinduan perlu diobati, apakah rindu adalah gangguan jiwa? Kerinduan adalah perasaan yang teramat sangat ingin dekat bahkan bersama seseorang yang sudah menetap di hati. Jika diberikan respon dalam tindakan atau emosi yang tidak tepat dan berlebihan, maka dapat  menjadi gangguan. Kerinduan menjadi ghirah dari Rumi dalam mencipta tarian sebagai sarana peribadatannya mengenal Tuhan.

Sampai sekarang, tari sufi di Indonesia masih sering ditemukan dalam majelis-majelis shalawat dan zikir. Tarian ini memiliki banyak filosofi mulai dari pakaian yang digunakan hingga gerakan-gerakannya. Selain memiliki makna filosofi, dalam artikel yang ditulis oleh Pambuka dan Saifuddin (2023) dengan judul Whirling Dance as a Sufi Healing Method: A Phenomenological Study of the Sufi Dance Community in Surakarta, tari sufi mempengaruhi banyak aspek dalam diri individu.

Dalam aspek afektif, tari sufi dapat menjadi sarana katarsis yaitu peluapan emosi yang sebelumnya mengendap. Selain itu, dalam aspek kognitif penari memiliki pembiasaan dan penguatan positif, karena penari dapat mencapai kondisi hipnosis sehingga peka terhadap sugesti positif. Pada tahap ini juga, penari sufi mengalami altered states of consciousness yaitu kondisi kesadaran yang berubah. Bentuk kesadaran ini memiliki sifat terapeutik, sehingga tari sufi dapat menjadi model penyembuhan atau psikoterapi dengan metode tasawuf yang sering disebut dengan Sufi Healing.

Segala proses tersebut tentunya dibarengi dengan tahapan-tahapan tari sufi yang tuma’ninah. Adapun tari sufi sekarang masihkah dengan proses tahapan yang disyaratkan atau tidak kembali kepada pribadi dan kelompok. Namun terkadang, sekarang tari sufi telah menjelma tarian pentas sahaja. Apakah itu menyalahi? Jika tari sufi ini dapat dibentuk secara sistematik menjadi sebuah model psikoterapi. Sepertinya, tidak lain halnya secara dhahir dapat menjadi tarian pentas. Meskipun sebenarnya juga, penari perempuan tidak boleh menari di depan laki-laki. wallahu a'lam bishawab.

Previous Article

Tasawuf dan Fisika Kuantum: Menyelami Dimensi Alam Empiris dan Ghaib

Next Article

Ramadhan dalam Bingkai Dualitas Struktur

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *